Mono Processing pada Individu Autis

March 18, 2010 by
Filed under: Artikel 
The short URL of the present article is: http://wp.me/pWcR7-31

Ibu Ina merasa sangat frustrasi karena sudah berbulan-bulan tidak berhasil mengajarkan Azka, anaknya yang autis,  untuk berbicara sambil memandang matanya. Setiap kali Azka melakukan kontak mata, mulutnya seolah terkunci karena tidak  satu katapun yang keluar. Padahal Azka bukannya  tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan karena sudah dilatih terus menerus. Azka biasanya bisa memberikan jawaban-jawaban yang benar atau mengekspresikan keinginannya secara verbal,  asalkan ia melakukannya sambil memandangi lantai atau ke arah lain. Ibu Ina menjadi bingung karena bila sedang bermain dan bercanda anaknya ini justru sangat suka memandang wajahnya, sementara bila diajak berbicara Azka justru lebih suka ‘melengos’.

Pengalaman di atas  juga dialami oleh para orangtua lain yang memiliki anak autis. Cukup banyak orangtua yang harus memegangi wajah anaknya agar mau memandang lawan bicaranya. Sayangnya cara ini bukannya mebantu anak untuk lebih berkonsentrasi, tetapi justru mempersulit anak untuk mengolah informasi yang masuk dan berespon secara benar. Mengapa demikian ? Sebab  anak-anak autis memiliki cara pengolahan informasi yang berbeda dengan anak-anak non autis. Mereka memproses informasi secara mono, artinya tidak dapat mengaktifkan seluruh indera secara bersamaan dan efektif. Jika  mereka harus bicara (aktivitas yang amat sulit bagi anak autis), maka akan sulit bagi mereka untuk secara bersamaan memperhatikan orang lain atau mengerjakan tugas lain.

Menurut Donna Williams, kecenderungan mono ini merupakan sumber dari berbagai masalah lain seperti kontrol diri dan toleransi terhadap stimulus lingkungan. Sebagai individu autis,  ia terus menerus harus beradaptasi dengan lingkungannya untuk bisa memahami dunia dan orang-orang di sekitarnya. Sampai dewasapun ia tetap mengalami banyak kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain. Dunia luar dirasakannya sebagai tempat yang tidak aman, hingar-bingar dan membingungkan sehingga ia lebih suka menarik diri dan berada dalam ‘dunia’nya. Kecenderungan MONO ini sudah tentu memperlambat pengolahan informasi dari luar sehingga berakibat terlambatnya pula respon yang muncul. Tidak jarang respon yang diberikan tidak sesuai atau salah karena informasi yang datang terus menerus atau terlalu banyak kemudian menumpuk dan tidak dapat diproses secara efektif.

Bagi kita yang memiliki kemampuan multi-tracked, masalah yang disebutkan di atas mungkin tidak pernah kita alami. Pada umumnya kita dapat mengolah informasi melalui beberapa indera secara bersamaan yang dilakukan secara efisien dan konsisten. Misalnya saja, sambil menonton film kita dapat mendengarkan percakapan para pemain, mendengarkan musik yang menyertai film, makan popcorn dan bahkan sekali-sekali mendiskusikan film tersebut dengan teman di sebelah kita. Ibu-ibu yang ‘sibuk’  dapat mengobrol di telpon atau mengerjakan tugas-tugas kantor sambil mengawasi anak mereka yang sedang bermain di dekat mereka. Ini berarti bahwa kita mampu memahami hal-hal yang terjadi di lingkungan, menyimpannya sebagai pengalaman dan memikirkan tentang apa yang terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Sistem pengolahan informasi yang kita miliki dapat digambarkan sebagai sejumlah kereta api yang berjalan bersamaan tetapi tidak saling bertabrakan.

Kesulitan lain yang dialami individu autis adalah dalam mengakses ingatan dan memonitor diri.  Bila kita mengalami kejadian tertentu, kita biasanya akan mengakses informasi dari pengalaman-pengalaman masa yang tersimpan dalam memori. Cara ini memungkinkan kita untuk mengetahui bagaimana perasaan, pikiran dan tingkahlaku kita pada situasi-situasi yang sama. Dengan demikian kita akan tahu apa yang harus dilakukan berdasarkan pengalaman kita yang terdahulu. Pada individu autis, mereka bisa memproses arti dari kejadian yang dihadapi tetapi tidak dapat atau mengalami kesulitan untuk mengakses informasi dari memori. Akibatnya mereka tidak tahu harus berbuat apa dan cenderung menghindar atau lari dari situasi tersebut. Disamping itu mereka juga kesulitan dalam memonitor ekspresi diri seperti gerakan, bahasa tubuh, ekspresi wajah, intonasi suara, volume suara, dan penggunaan kata-kata. Tidak adanya kapasitas monitoring yang efisien ini menyebabkan mereka kesulitan untuk mengekspresikan diri sesuai dengan harapan sosial.

Sebagai adaptasi dan kompensasi terhadap keterbatasan-keterbatasan tersebut, penyandang autisme melakukan beberapa cara. Pertama, mereka mengaktifkan satu indera saja dan menutup yang lainnnya dengan tujuan untuk meningkatkan efektifitas pengolahan informasi. Kedua, secara bergantian memperhatikan diri sendiri dan orang lain. Artinya, setelah mereka memperoleh informasi dari luar, mereka akan memfokuskan pada pemberian arti terhadap stimulus dan merencanakan respon yang akan diberikan. Setelah itu barulah mereka dapat kembali memberi perhatikan orang lain. Cara ini dilakukan berulang-ulang. Ketiga, mereka melakukan rote-learning yaitu menghafal informasi yang diterima secara apa adanya (kita sering menyebutnya sebagai menghafal mati). Strategi ini menyebabkan banyak anak autis yang menonjol dalam kemampuan matematika dan menghafalkan nama-nama. Namun demikian,  bila diterapkan dalam interaksi sosial maka yang tampak adalah perilaku yang stereotipi.

Dengan memahami cara-cara yang dilakukan individu autis dalam memproses informasi maka kita sebagai orangtua, terapis dan guru perlu memperhatikan cara-cara penyajian informasi agar dapat lebih mudah mereka pahami. Informasi yang kita berikan haruslah jelas, singkat, kongkrit dan diberikan secara bergantian dalam jangka waktu yang tidak terlalu cepat. Kita harus menyadari bahwa memang benar anak-anak autis membutuhkan stimulasi sejak usia dini, tetapi stimulasi yang berlebihan justru akan merugikan bagi mereka.

Sumber : Williams, Donna. 1996. Autism : an inside-out approach. Jessica Kingsley Publishers.

Comments

Comments are closed.

  • Yayasan Autisma Indonesia
    Jasmine Tower Lt. 2, #CC02,
    Apartemen Kalibata City
    Jl. Kalibata Raya no. 1,
    Jakarta 12750
    Tlp. 0851 01 555 643
    [email protected]

     

    Instagram