Autisme dan Gangguan Pencernaan
Selama berabad-abad para dokter telah mengetahui bahwa fungsi alat pencernaan yang baik merupakan syarat utama bagi kesehatan. Sistem pencernaan bertanggung jawab untuk memproses masukan makanan yang dibutuhkan supaya semua alat tubuh bekerja dengan baik. Dilain fihak dinding usus juga harus dalam keadaan sempurna oleh karena ia harus bisa menjaga supaya jangan ada benda-benda yang berbahaya masuk kedalam tubuh kita, seperti misalnya virus, kuman, benda asing dan lain sebagainya.
Nutrisi yang optimal sangat penting untuk tumbuh kembang, memperbaiki alat tubuh yang rusak dan usang, dan juga untuk reproduksi. Akhir-akhir ini masyarakat makin sadar akan pentingnya nutrisi bagi kesehatan dan juga makin banyak orang yang mencoba menyembuhkan dan mencegah berbagai macam penyakit dengan melakukan diet. Banyak tulisan yang membahas betapa pentingnya diet yang seimbang untuk kesehatan.
Namun demikian banyak orang yang terbiasa mengkonsumsi diet yang seimbang, namun mempunyai problema pencernaan yang cukup parah. Untuk mereka betapapun baiknya makanan yang dikonsumsi, akan tetap sia-sia bila tubuh tak bisa mencerna, menyerap dan membagikan nutrisi tersebut. Mereka akan mengalami kekurangan berbagai macam nutrisi yang bisa mengakibatkan berbagai macam gangguan seperti asma, penyakit kulit, rendahnya kekebalan tubuh, dan juga gangguan pada system saraf.
Kebanyakan anak-anak dengan ASD (Autism Spectrum Disorder) mengalami gangguan pencernaan seperti : hiperpermeabilitas usus (leaky gut syndrome), malabsorbsi, enterocolitis (peradangan usus), gangguan detoksifikasi dan lain sebagainya.
Semua abnormalitas yang ada pada usus ini mengganggu fungsi pencernaan sehingga timbul berbagai macam defisiensi nutrisi. Vitamin dan mineral yang biasanya kurang pada anak-anak ini adalah vitamin B6, zinc, magnesium, calcium dan selenium.
Segala kekurangan tersebut, ditambah pula dengan adanya gangguan lain seperti :
sensitivitas atau alergi terhadap berbagai macam makanan, pencemaran zat-zat kimia dan logam beracun dari lingkungan, bisa membantu menerangkan mengapa anak dengan ASD mempunyai begitu banyak gejala fisik maupun neurologik.
Untuk anak-anak ini pencernaan yang sehat merupakan hal yang vital. Terganggunya fungsi alat pencernaan mempunyai dampak yang sangat buruk untuk kesehatan anak itu secara menyeluruh. Oleh karena itu dalam menangani anak dengan ASD alat pencernaanlah yang harus diperiksa dan diperbaiki terlebih dahulu.
Kita semua mengetahui betapa sulitnya memberi makan anak dengan ASD. Mereka mempunyai alat pengecapan yang sangat peka, hanya menyukai makanan yang itu-itu saja. Mereka tidak mau untuk mencicipi makanan yang lain. Kebanyakan dari mereka tak suka sayur dan tak suka buah. Bahkan ada yang hanya hidup dari susu dan mi instan dengqan coklat sebagai cemilannya. Tidaklah heran bila banyak dari mereka kekurangan nutrisi dan vitamin. Meskipun susu kandungan proteinnya (casein) tinggi, namun 95% anak ASD alergi terhadap casein dan gluten. Hal ini diketahui dari pemeriksaan “comprehensive food allergy” pada sekitar 200 anak Indonesia dengan ASD.
Mengganti pola makan anak ASD membutuhkan ketekunan, kegigihan dan konsistensi yang luar biasa. Disini peran orang tua dan orang-orang didalam rumah (para opung, tante, oom dan juga pembantu) sangat besar. Semuanya harus sepakat untuk membantu anak tersebut.
Masih banyak orang tua yang merasa gamang untuk menerapkan pola makan yang berbeda tersebut, oleh karena takut anaknya kurang gizi, tantrum, jadi sakit-sakitan dan sebagainya. Namun beberapa orang tua yang berhasil, melihat perubahan yang besar pada anaknya; mereka jadi lebih menyukai makanan yang sehat, pencernaannya membaik, pola tidur jadi bagus, demikian juga perilakunya.
Tentu saja setiap anak berbeda. Bila gangguan yang dialami sianak bukan hanya pada pencernaannya saja, tentu saja hal-hal yang lainnya pun harus diperbaiki.
Dr. Melly Budhiman, SpKJ
Sumber ‘racun’ di sekitar kita..
Pemeriksaan rambut ratusan anak-anak dengan ASD menunjukkan bahwa 90% dari mereka mempunyai kadar logam beracun yang tinggi dalam tubuhnya. Berapa banyak dari racun itu ada dalam tubuhnya dan berapa persen berada dalam otaknya tidak diketahui.
Seberapa akuratkah pemeriksaan logam berat melalui rambut ? Itupun sulit dipastikan. Hanya saja memang pemeriksaan inilah yang ada pada saat ini, dan beberapa ahli mengatakan bahwa pemeriksaan ini cukup bisa dipercaya.
Dari sekian banyak logam berat yang bisa masuk dalam tubuh, yang merupakan racun otak yang kuat adalah terutama Merkuri (Hg) dan Timbal hitam (Pb).
Mengapa anak-anak dengan ASD mempunyai kecenderungan “menumpuk” logam-logam ini dalam tubuhnya ? Salah satu penyebabnya adalah karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk membuang logam-logam tersebut dari tubuhnya.
Oleh karena itu sebaiknya para orang tua mengetahui sumber-sumber logam tersebut sehingga bisa menghindarinya.
Timbal hitam (Pb)
Timbal hitam adalah logam berwarna keabu-abuan yang secara alamiah terdapat pada lapisan tanah. Timbal hitam bisa ditemukan dimana saja di lingkungan kita, bahkan sangat banyak dipakai oleh manusia. Misalnya dalam produksi batu batere, amunisi, benda2 yang terbuat dari metal, misalnya pipa, solder, bahkan dipakai untuk lapisan pelindung terhadap sinar-X. Timbal hitam juga masih dipakai sebagai campuran dalam bensin, cat rumah, keramik, dan juga dipakai di percetakan.
Bila debu yang berisi timbal hitam terbang di udara, ia bisa terbang sangat jauh sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Begitu jatuh ke tanah ia akan menempel pada partikel-partikel tanah dan sebagian diserap oleh air tanah.
Bagaimana manusia bisa terpapar timbal hitam ?
- Tercemar makanan dan minuman yang mengandung zat tersebut.
- Berada dalam suatu bangunan tua yang catnya mulai mengelupas.
- Berada di tempat pekerjaan, dimana timbal dipakai.
- Memakai timbal untuk hobi, misalnya mewarnai kaca.
Pengaruh timbal hitam terhadap kesehatan:
Timbal mempunyai efek yang buruk terhadap semua organ tubuh. Yang paling peka adalah susunan saraf pusat, terutama pada anak-anak. Ginjal dan alat reproduktif juga sangat terpengaruh. Apakah ditelan atau dihirup pengaruhnya sama.
Pada kadar yang tinggi timbal bisa memperlambat reaksi, menyebabkan kelemahan pada jari, pergelangan tangan dan kaki, dan juga mempengaruhi daya ingat. Pada pria bisa mempengaruhi sistem reproduktif.
Bagaimana pengaruhnya terhadap anak ?
Anak kecil bisa tercemar dengan memakan benda-benda yang mengandung timbal, seperti cat yang mengelupas, tanah yang tercemar, atau menghirup udara yang terpolusi timbal.
Anak lebih peka terhadap keracunan timbal daripada orang dewasa. Menelan kadar yang cukup tinggi menimbulkan anemia, sakit perut hebat, kelemahan otot dan kerusakan otak. Pada kadar yang lebih kecilpun timbal bisa mempengaruhi perkembangan mental dan fisik anak.
Akibat paparan timbal jauh lebih berbahaya untuk bayi dan janin. Bisa menyebabkan kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan yang kurang, kemampuan mental berkurang, sedangkan pada usia sekolah ia akan mengalami kesulitan belajar dan gangguan pertumbuhan fisik. Efek seperti ini akan terlihat bila si ibu terpapar kadar timbal yang tinggi.
Cara menghindari risiko paparan timbal:
- Hindari sumber cemaran timbal.
- Jaga anak-anak supaya tidak memasukkan/mengigit-gigit sesuatu yang dicat dengan cat yang dicampur timbal.
- Alirkanlah air keran untuk 15-30 detik sebelum diambil airnya, untuk menghindari timbal yang mungkin bocor dan keluar dari pipa.
- Jauhkanlah semua benda yang mengandung timbal dari anak-anak.
- Seringkali bersihkan muka dan tangan anak. Bersihkan rumah dari debu tiap hari.
Merkuri /Air raksa ( Hg)
Merkuri adalah sejenis metal yang terjadi secara alamiah dan mempunyai berbagai bentuk. Metal merkuri adalah cairan yang mengkilat berwarna putih-perak, dan tidak berbau. Bila dipanaskan ia menguap menjadi gas yang tak berwarna dan tak berbau.
Merkuri-inorganik atau disebut juga garam merkuri adalah campuran merkuri dengan elemen-elemen seperti chlorine, sulfur atau oksigen, berbentuk bubuk putih atau kristal.
Bila bergabung dengan karbon, merkuri membentuk merkuri-organik. Yang paling sering ditemui adalah methylmerkuri yang dibuat oleh jasad renik dalam air atau tanah. Makin banyak merkuri di lingkungan, makin banyak methylmerkuri dibuat oleh jasad renik tersebut.
Metal merkuri dipakai untuk membuat gas chlorine dan caustic soda, juga dipakai dalam thermometer, tambalan gigi dan batu batere. Garam merkuri kadang-kadang dipakai dalam krim muka sebagai pemutih, juga dalam krim antiseptik dan salep.
Darimana datangnya merkuri ?
- Merkuri inorganik (garam merkuri) dihasilkan oleh pembakaran batu bara, pabrik2 yang memakai bahan merkuri dan pertambangan merkuri. Merkuri yang berupa debu terbang melalui udara.
- Merkuri masuk ke dalam air atau tanah dari pembuangan sampah, dan letupan gunung berapi.
- Methylmerkuri terbentuk dalam air dan tanah oleh jasad renik yang disebut bakteri.
- Methylmerkuri diserap oleh ikan. Makin besar dan makin tua ikan tersebut, makin tinggi paparan merkuri dalam tubuhnya.
Bagaimana manusia terpapar oleh merkuri ?
- Makan ikan atau kerang yang terpapar methylmerkuri.
- Menghirup udara yang mengandung uap merkuri dari pembakaran, incinerator dan industri yang memakai merkuri sebagai bahan bakar.
- Menghirup uap merkuri yang lepas dari tambalan gigi, mendapat suntikan yang mengandung merkuri.
- Menghirup udara yang terkontaminasi uap merkuri di tempat kerja, dan kontak melalui kulit ( dokter gigi, pekerja kesehatan, kimia dan industri yang memakai merkuri misalnya pabrik termometer dan lampu neon).
Pengaruh merkuri terhadap kesehatan :
- Susunan saraf pusat sangat peka terhadap semua jenis merkuri.
- Methylmerkuri dan metal-merkuri lebih berbahaya dari jenis lain, oleh karena dalam bentuk ini merkuri bisa sampai ke otak. Paparan yang tinggi terhadap metal-, inorganik-, dan organik- merkuri bisa menyebabkan kerusakan yang permanen pada otak, ginjal dan janin yang sedang berkembang. Dampak terhadap fungsi otak bisa berupa iritabilitas (mudah marah), rasa malu, tremor (gemetaran), gangguan penglihatan, pendengaran dan memori (daya ingat).
- Suatu paparan jangka pendek pada kadar yang tinggi dari uap metal-merkuri bisa menyebabkan kerusakan paru, rasa mual, muntah, diare, peninggian tekanan darah dan detak jantung, gangguan pada kulit dan iritasi mata.
Bagaimana pengaruh merkuri terhadap anak ?
- Makin muda seorang anak makin peka terhadap pengaruh merkuri.
- Pada saat pembentukan janin, ia bisa mendapat paparan merkuri dari ibunya, bila ibu tersebut juga terpapar merkuri yang selama itu menumpuk dalam tubuhnya, terutama tulangnya.
- Begitu juga merkuri bisa sampai pada bayi melalui air susu ibu.
- Merkuri yang terpapar pada janin melalui ibunya bisa menimbulkan kerusakan otak, retardasi mental, gangguan koordinasi, buta, kejang, dan gangguan bicara.
- Anak-anak yang teracuni merkuri bisa mengalami kerusakan pada susunan saraf, saluran pencernaan dan ginjal.
Cara menghindari risiko paparan merkuri :
- Hati-hati membuang benda yang mengandung merkuri seperti termometer dan lampu neon.
- Bila merkuri jatuh dilantai, jangan memakai penghisap debu (vacuum-cleaner), oleh karena merkuri tersebut akan menguap dan bahaya untuk terhirup.
- Ajarkan anak-anak untuk tidak bermain dengan cairan yang mengkilat dan berwarna perak.
- Hati-hati membuang obat yang mengandung merkuri. Jauhkan dari anak-anak obat-obat tersebut.
- Hindari tambalan gigi yang memakai merkuri (amalgam).
- Hindari makan ikan laut terlalu banyak.
Dr. Melly Budhiman SpKJ, Maret 2004.
Dimuat di Buletin YAI pada tahun yang sama.
Mono Processing pada Individu Autis
Ibu Ina merasa sangat frustrasi karena sudah berbulan-bulan tidak berhasil mengajarkan Azka, anaknya yang autis, untuk berbicara sambil memandang matanya. Setiap kali Azka melakukan kontak mata, mulutnya seolah terkunci karena tidak satu katapun yang keluar. Padahal Azka bukannya tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan karena sudah dilatih terus menerus. Azka biasanya bisa memberikan jawaban-jawaban yang benar atau mengekspresikan keinginannya secara verbal, asalkan ia melakukannya sambil memandangi lantai atau ke arah lain. Ibu Ina menjadi bingung karena bila sedang bermain dan bercanda anaknya ini justru sangat suka memandang wajahnya, sementara bila diajak berbicara Azka justru lebih suka ‘melengos’.
Pengalaman di atas juga dialami oleh para orangtua lain yang memiliki anak autis. Cukup banyak orangtua yang harus memegangi wajah anaknya agar mau memandang lawan bicaranya. Sayangnya cara ini bukannya mebantu anak untuk lebih berkonsentrasi, tetapi justru mempersulit anak untuk mengolah informasi yang masuk dan berespon secara benar. Mengapa demikian ? Sebab anak-anak autis memiliki cara pengolahan informasi yang berbeda dengan anak-anak non autis. Mereka memproses informasi secara mono, artinya tidak dapat mengaktifkan seluruh indera secara bersamaan dan efektif. Jika mereka harus bicara (aktivitas yang amat sulit bagi anak autis), maka akan sulit bagi mereka untuk secara bersamaan memperhatikan orang lain atau mengerjakan tugas lain.
Menurut Donna Williams, kecenderungan mono ini merupakan sumber dari berbagai masalah lain seperti kontrol diri dan toleransi terhadap stimulus lingkungan. Sebagai individu autis, ia terus menerus harus beradaptasi dengan lingkungannya untuk bisa memahami dunia dan orang-orang di sekitarnya. Sampai dewasapun ia tetap mengalami banyak kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain. Dunia luar dirasakannya sebagai tempat yang tidak aman, hingar-bingar dan membingungkan sehingga ia lebih suka menarik diri dan berada dalam ‘dunia’nya. Kecenderungan MONO ini sudah tentu memperlambat pengolahan informasi dari luar sehingga berakibat terlambatnya pula respon yang muncul. Tidak jarang respon yang diberikan tidak sesuai atau salah karena informasi yang datang terus menerus atau terlalu banyak kemudian menumpuk dan tidak dapat diproses secara efektif.
Bagi kita yang memiliki kemampuan multi-tracked, masalah yang disebutkan di atas mungkin tidak pernah kita alami. Pada umumnya kita dapat mengolah informasi melalui beberapa indera secara bersamaan yang dilakukan secara efisien dan konsisten. Misalnya saja, sambil menonton film kita dapat mendengarkan percakapan para pemain, mendengarkan musik yang menyertai film, makan popcorn dan bahkan sekali-sekali mendiskusikan film tersebut dengan teman di sebelah kita. Ibu-ibu yang ‘sibuk’ dapat mengobrol di telpon atau mengerjakan tugas-tugas kantor sambil mengawasi anak mereka yang sedang bermain di dekat mereka. Ini berarti bahwa kita mampu memahami hal-hal yang terjadi di lingkungan, menyimpannya sebagai pengalaman dan memikirkan tentang apa yang terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Sistem pengolahan informasi yang kita miliki dapat digambarkan sebagai sejumlah kereta api yang berjalan bersamaan tetapi tidak saling bertabrakan.
Kesulitan lain yang dialami individu autis adalah dalam mengakses ingatan dan memonitor diri. Bila kita mengalami kejadian tertentu, kita biasanya akan mengakses informasi dari pengalaman-pengalaman masa yang tersimpan dalam memori. Cara ini memungkinkan kita untuk mengetahui bagaimana perasaan, pikiran dan tingkahlaku kita pada situasi-situasi yang sama. Dengan demikian kita akan tahu apa yang harus dilakukan berdasarkan pengalaman kita yang terdahulu. Pada individu autis, mereka bisa memproses arti dari kejadian yang dihadapi tetapi tidak dapat atau mengalami kesulitan untuk mengakses informasi dari memori. Akibatnya mereka tidak tahu harus berbuat apa dan cenderung menghindar atau lari dari situasi tersebut. Disamping itu mereka juga kesulitan dalam memonitor ekspresi diri seperti gerakan, bahasa tubuh, ekspresi wajah, intonasi suara, volume suara, dan penggunaan kata-kata. Tidak adanya kapasitas monitoring yang efisien ini menyebabkan mereka kesulitan untuk mengekspresikan diri sesuai dengan harapan sosial.
Sebagai adaptasi dan kompensasi terhadap keterbatasan-keterbatasan tersebut, penyandang autisme melakukan beberapa cara. Pertama, mereka mengaktifkan satu indera saja dan menutup yang lainnnya dengan tujuan untuk meningkatkan efektifitas pengolahan informasi. Kedua, secara bergantian memperhatikan diri sendiri dan orang lain. Artinya, setelah mereka memperoleh informasi dari luar, mereka akan memfokuskan pada pemberian arti terhadap stimulus dan merencanakan respon yang akan diberikan. Setelah itu barulah mereka dapat kembali memberi perhatikan orang lain. Cara ini dilakukan berulang-ulang. Ketiga, mereka melakukan rote-learning yaitu menghafal informasi yang diterima secara apa adanya (kita sering menyebutnya sebagai menghafal mati). Strategi ini menyebabkan banyak anak autis yang menonjol dalam kemampuan matematika dan menghafalkan nama-nama. Namun demikian, bila diterapkan dalam interaksi sosial maka yang tampak adalah perilaku yang stereotipi.
Dengan memahami cara-cara yang dilakukan individu autis dalam memproses informasi maka kita sebagai orangtua, terapis dan guru perlu memperhatikan cara-cara penyajian informasi agar dapat lebih mudah mereka pahami. Informasi yang kita berikan haruslah jelas, singkat, kongkrit dan diberikan secara bergantian dalam jangka waktu yang tidak terlalu cepat. Kita harus menyadari bahwa memang benar anak-anak autis membutuhkan stimulasi sejak usia dini, tetapi stimulasi yang berlebihan justru akan merugikan bagi mereka.
Sumber : Williams, Donna. 1996. Autism : an inside-out approach. Jessica Kingsley Publishers.



