Kampanye Peduli Autisme 2010

March 18, 2010 by Pengurus · Leave a Comment
Filed under: 2010, Berita, Event 

Kampanye Peduli Autisme merupakan kegiatan tahunan yang dijalankan secara konsisten dan berkesinambungan untuk terus mendidik dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap autisme dan individu penyandang autis.

Kampanye peduli autisme 2010 merupakan kampanye keempat yang dilaksanakan secara terorganisir dan serentak.

Kampanye peduli autisme pertama kali dilaksanakan pada tahun 2007 yakni dimulai dengan melakukan aksi damai membagi-bagi flyer di bundaran HI pada bulan April 2007 (yang merupakan bulan peduli autisme sedunia). Diprakarsai oleh para orang tua penyandang autisme yang tergabung dalam milis putera kembara dan Yayasan Autisma Indonesia, dan didukung oleh artis-artis Ibukota yang perduli, seperti M. Farhan, Dominique Sanda, Nina Tamam, Gading Martin, Jeremy Thomas dan masih banyak lagi. Acara ditutup dengan mengadakan konferensi pers di restaurant Paparazzi di Plaza Indonesia.

Pada tahun 2008, melanjutkan tradisi tahun sebelumnya, bertepatan dengan ditetapkannya tanggal 2 April sebagai hari Peduli Autisme sedunia, YAI dan para sukarelawan mengadakan konferensi pers di warung daun yang kemudan dilanjutkan dengan menyelenggarakan kegiatan autism Expo yang diadakan pada tanggal 26 – 27 April 2008 di Graha Sucofindo yang dibuka oleh Menteri Kesehatan Dr. Siti Fadillah.
Pada tahun 2009, kampanye Peduli Autisme dijalankan dengan mengadakan konferensi pers pada tanggal 2 April 2009, melakukan pendekatan pada media untuk menayangkan sesi-sesi yang terkait dengan autisme baik dalam bentuk talkshow ataupun penayangan Iklan Layanan Masyarakat ataupun dalam bentuk artikel mengenai autisme.
Untuk tahun 2010, Kampanye Peduli Autisme dijalankan melalui rangkaian kegiatan sebagai berikut :

Rangkaian kegiatan

Kampanye peduli autisme di media massa atau jalur komunikasi lainnya selama bulan Maret – Mei 2010 yang didukung oleh para artis, politikus, negarawan dan sebagainya

  • Mengadakan kegiatan JALAN BERSAMA PEDULI AUTISME  yang akan dilakukan pada tanggal 11 April 2010, dari bunderan Monas sampai ke bunderan HI.
  • Mengadakan Expo Peduli Autisme pada tanggal 17 – 18 April 2010 di Graha Sucofindo, Jakarta Selatan yang mencakup:
  1. Seminar dengan tema dan topik berkaitan dengan gangguan perkembangan autisme
  2. Pameran hasil karya anak-anak autistik
  3. Bazaar produk yang bermanfaat bagi komunitas anak autistik
  4. Area bermain untuk anak-anak yang datang bersama orangtuanya
  • Mengadakan Workshop untuk keluarga, terapis, dan guru anak-anak autistik pada tanggal 19 April 2010 di Jakarta Disain Center, Jakarta Barat.

Sumber ‘racun’ di sekitar kita..

March 18, 2010 by Pengurus · Leave a Comment
Filed under: Artikel 

Pemeriksaan rambut ratusan anak-anak dengan ASD menunjukkan bahwa 90% dari mereka mempunyai kadar logam beracun yang tinggi dalam tubuhnya. Berapa banyak dari racun itu ada dalam tubuhnya dan berapa persen berada dalam otaknya tidak diketahui.

Seberapa akuratkah pemeriksaan logam berat melalui rambut ? Itupun sulit dipastikan. Hanya saja memang pemeriksaan inilah yang ada pada saat ini, dan beberapa ahli mengatakan bahwa pemeriksaan ini cukup bisa dipercaya.

Dari sekian banyak logam berat yang bisa masuk dalam tubuh, yang merupakan racun otak yang kuat adalah terutama Merkuri (Hg) dan Timbal hitam (Pb).

Mengapa anak-anak dengan ASD mempunyai kecenderungan “menumpuk” logam-logam ini dalam tubuhnya ? Salah satu penyebabnya adalah karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk membuang logam-logam tersebut dari tubuhnya.

Oleh karena itu sebaiknya para orang tua mengetahui sumber-sumber logam tersebut sehingga bisa menghindarinya.

Timbal hitam (Pb)

Timbal hitam adalah logam berwarna keabu-abuan yang secara alamiah terdapat pada lapisan tanah. Timbal hitam bisa ditemukan dimana saja di lingkungan kita, bahkan sangat banyak dipakai oleh manusia. Misalnya dalam produksi batu batere, amunisi, benda2 yang terbuat dari metal, misalnya pipa, solder, bahkan dipakai untuk lapisan pelindung terhadap sinar-X. Timbal hitam juga masih dipakai sebagai campuran dalam bensin, cat rumah, keramik, dan juga dipakai di percetakan.

Bila debu yang berisi timbal hitam terbang di udara, ia bisa terbang sangat jauh sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Begitu jatuh ke tanah ia akan menempel pada partikel-partikel tanah dan sebagian diserap oleh air tanah.

Bagaimana manusia bisa terpapar timbal hitam ?

  • Tercemar makanan dan minuman yang mengandung zat tersebut.
  • Berada dalam suatu bangunan tua yang catnya mulai mengelupas.
  • Berada di tempat pekerjaan, dimana timbal dipakai.
  • Memakai timbal untuk hobi, misalnya mewarnai kaca.

Pengaruh timbal hitam terhadap kesehatan:

Timbal mempunyai efek yang buruk terhadap semua organ tubuh. Yang paling peka adalah susunan saraf pusat, terutama pada anak-anak. Ginjal dan alat reproduktif juga sangat terpengaruh. Apakah ditelan atau dihirup pengaruhnya sama.

Pada kadar yang tinggi timbal bisa memperlambat reaksi, menyebabkan kelemahan pada jari, pergelangan tangan dan kaki, dan juga mempengaruhi daya ingat. Pada pria bisa mempengaruhi sistem reproduktif.

Bagaimana pengaruhnya terhadap anak ?

Anak kecil bisa tercemar dengan memakan benda-benda yang mengandung timbal, seperti cat yang mengelupas, tanah yang tercemar, atau menghirup udara yang  terpolusi timbal.

Anak lebih peka terhadap keracunan timbal daripada orang dewasa. Menelan kadar yang cukup tinggi menimbulkan anemia, sakit perut hebat, kelemahan otot dan kerusakan otak. Pada kadar yang lebih kecilpun timbal bisa mempengaruhi perkembangan mental dan fisik anak.

Akibat paparan timbal jauh lebih berbahaya untuk bayi dan janin. Bisa menyebabkan kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan yang kurang, kemampuan mental berkurang, sedangkan pada usia sekolah ia akan mengalami kesulitan belajar dan gangguan pertumbuhan fisik. Efek seperti ini akan terlihat bila si ibu terpapar kadar timbal yang tinggi.

Cara menghindari risiko paparan timbal:

  • Hindari sumber cemaran timbal.
  • Jaga anak-anak supaya tidak memasukkan/mengigit-gigit sesuatu yang dicat dengan cat yang dicampur timbal.
  • Alirkanlah air keran untuk 15-30 detik sebelum diambil airnya, untuk menghindari timbal yang mungkin bocor dan keluar dari pipa.
  • Jauhkanlah semua benda yang mengandung timbal dari anak-anak.
  • Seringkali bersihkan muka dan tangan anak. Bersihkan rumah dari debu tiap hari.

Merkuri /Air raksa ( Hg)

Merkuri adalah sejenis metal yang terjadi secara alamiah dan mempunyai berbagai bentuk. Metal merkuri adalah cairan yang mengkilat berwarna putih-perak, dan tidak berbau. Bila dipanaskan ia menguap menjadi gas yang tak berwarna dan tak berbau.

Merkuri-inorganik atau disebut juga garam merkuri adalah campuran merkuri dengan elemen-elemen seperti chlorine, sulfur atau oksigen, berbentuk bubuk putih atau kristal.

Bila bergabung dengan karbon, merkuri membentuk merkuri-organik. Yang paling sering ditemui adalah methylmerkuri yang dibuat oleh jasad renik dalam air atau tanah. Makin banyak merkuri di lingkungan, makin banyak methylmerkuri dibuat oleh jasad renik tersebut.

Metal merkuri dipakai untuk membuat gas chlorine dan caustic soda, juga dipakai dalam thermometer, tambalan gigi dan batu batere. Garam merkuri kadang-kadang dipakai dalam krim muka sebagai pemutih, juga dalam krim antiseptik dan salep.

Darimana datangnya merkuri ?

  • Merkuri inorganik (garam merkuri) dihasilkan oleh pembakaran batu bara, pabrik2 yang memakai bahan merkuri dan pertambangan merkuri. Merkuri yang berupa debu terbang melalui udara.
  • Merkuri masuk ke dalam air atau tanah dari pembuangan sampah, dan letupan gunung berapi.
  • Methylmerkuri terbentuk dalam air dan tanah oleh jasad renik yang disebut bakteri.
  • Methylmerkuri diserap oleh ikan. Makin besar dan makin tua ikan tersebut, makin tinggi paparan merkuri dalam tubuhnya.

Bagaimana manusia terpapar oleh merkuri ?

  • Makan ikan atau kerang yang terpapar methylmerkuri.
  • Menghirup udara yang mengandung uap merkuri dari pembakaran, incinerator dan industri yang memakai merkuri sebagai bahan bakar.
  • Menghirup uap merkuri yang lepas dari tambalan gigi, mendapat suntikan yang mengandung merkuri.
  • Menghirup udara yang terkontaminasi uap merkuri di tempat kerja, dan kontak melalui kulit ( dokter gigi, pekerja kesehatan, kimia dan industri yang memakai merkuri misalnya pabrik termometer dan lampu neon).

Pengaruh merkuri terhadap kesehatan :

  • Susunan saraf pusat sangat peka terhadap semua jenis merkuri.
  • Methylmerkuri dan metal-merkuri lebih berbahaya dari jenis lain, oleh karena dalam bentuk ini merkuri bisa sampai ke otak. Paparan yang tinggi terhadap metal-, inorganik-, dan organik- merkuri bisa menyebabkan kerusakan yang permanen pada otak, ginjal dan janin yang sedang berkembang. Dampak terhadap fungsi otak bisa berupa iritabilitas (mudah marah), rasa malu, tremor (gemetaran), gangguan penglihatan, pendengaran dan memori (daya ingat).
  • Suatu paparan jangka pendek pada kadar yang tinggi dari uap metal-merkuri bisa menyebabkan kerusakan paru, rasa mual, muntah, diare, peninggian tekanan darah dan detak jantung, gangguan pada kulit dan iritasi mata.

Bagaimana pengaruh merkuri terhadap anak ?

  • Makin muda seorang anak makin peka terhadap pengaruh merkuri.
  • Pada saat pembentukan janin, ia bisa mendapat paparan merkuri dari ibunya, bila ibu tersebut juga terpapar merkuri yang selama itu menumpuk dalam tubuhnya, terutama tulangnya.
  • Begitu juga merkuri bisa sampai pada bayi melalui air susu ibu.
  • Merkuri yang terpapar pada janin melalui ibunya bisa menimbulkan kerusakan otak, retardasi mental, gangguan koordinasi, buta, kejang, dan gangguan bicara.
  • Anak-anak yang teracuni merkuri bisa mengalami kerusakan pada susunan saraf, saluran pencernaan dan ginjal.

Cara menghindari risiko paparan merkuri :

  • Hati-hati membuang benda yang mengandung merkuri seperti termometer dan lampu neon.
  • Bila merkuri jatuh dilantai, jangan memakai penghisap debu (vacuum-cleaner), oleh karena merkuri tersebut akan menguap dan bahaya untuk terhirup.
  • Ajarkan anak-anak untuk tidak bermain dengan cairan yang mengkilat dan berwarna perak.
  • Hati-hati membuang obat yang mengandung merkuri. Jauhkan dari anak-anak obat-obat tersebut.
  • Hindari tambalan gigi yang memakai merkuri (amalgam).
  • Hindari makan ikan laut terlalu banyak.

Dr. Melly Budhiman SpKJ, Maret 2004.
Dimuat di Buletin YAI pada tahun yang sama.

Mono Processing pada Individu Autis

March 18, 2010 by Pengurus · Leave a Comment
Filed under: Artikel 

Ibu Ina merasa sangat frustrasi karena sudah berbulan-bulan tidak berhasil mengajarkan Azka, anaknya yang autis,  untuk berbicara sambil memandang matanya. Setiap kali Azka melakukan kontak mata, mulutnya seolah terkunci karena tidak  satu katapun yang keluar. Padahal Azka bukannya  tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan karena sudah dilatih terus menerus. Azka biasanya bisa memberikan jawaban-jawaban yang benar atau mengekspresikan keinginannya secara verbal,  asalkan ia melakukannya sambil memandangi lantai atau ke arah lain. Ibu Ina menjadi bingung karena bila sedang bermain dan bercanda anaknya ini justru sangat suka memandang wajahnya, sementara bila diajak berbicara Azka justru lebih suka ‘melengos’.

Pengalaman di atas  juga dialami oleh para orangtua lain yang memiliki anak autis. Cukup banyak orangtua yang harus memegangi wajah anaknya agar mau memandang lawan bicaranya. Sayangnya cara ini bukannya mebantu anak untuk lebih berkonsentrasi, tetapi justru mempersulit anak untuk mengolah informasi yang masuk dan berespon secara benar. Mengapa demikian ? Sebab  anak-anak autis memiliki cara pengolahan informasi yang berbeda dengan anak-anak non autis. Mereka memproses informasi secara mono, artinya tidak dapat mengaktifkan seluruh indera secara bersamaan dan efektif. Jika  mereka harus bicara (aktivitas yang amat sulit bagi anak autis), maka akan sulit bagi mereka untuk secara bersamaan memperhatikan orang lain atau mengerjakan tugas lain.

Menurut Donna Williams, kecenderungan mono ini merupakan sumber dari berbagai masalah lain seperti kontrol diri dan toleransi terhadap stimulus lingkungan. Sebagai individu autis,  ia terus menerus harus beradaptasi dengan lingkungannya untuk bisa memahami dunia dan orang-orang di sekitarnya. Sampai dewasapun ia tetap mengalami banyak kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain. Dunia luar dirasakannya sebagai tempat yang tidak aman, hingar-bingar dan membingungkan sehingga ia lebih suka menarik diri dan berada dalam ‘dunia’nya. Kecenderungan MONO ini sudah tentu memperlambat pengolahan informasi dari luar sehingga berakibat terlambatnya pula respon yang muncul. Tidak jarang respon yang diberikan tidak sesuai atau salah karena informasi yang datang terus menerus atau terlalu banyak kemudian menumpuk dan tidak dapat diproses secara efektif.

Bagi kita yang memiliki kemampuan multi-tracked, masalah yang disebutkan di atas mungkin tidak pernah kita alami. Pada umumnya kita dapat mengolah informasi melalui beberapa indera secara bersamaan yang dilakukan secara efisien dan konsisten. Misalnya saja, sambil menonton film kita dapat mendengarkan percakapan para pemain, mendengarkan musik yang menyertai film, makan popcorn dan bahkan sekali-sekali mendiskusikan film tersebut dengan teman di sebelah kita. Ibu-ibu yang ‘sibuk’  dapat mengobrol di telpon atau mengerjakan tugas-tugas kantor sambil mengawasi anak mereka yang sedang bermain di dekat mereka. Ini berarti bahwa kita mampu memahami hal-hal yang terjadi di lingkungan, menyimpannya sebagai pengalaman dan memikirkan tentang apa yang terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Sistem pengolahan informasi yang kita miliki dapat digambarkan sebagai sejumlah kereta api yang berjalan bersamaan tetapi tidak saling bertabrakan.

Kesulitan lain yang dialami individu autis adalah dalam mengakses ingatan dan memonitor diri.  Bila kita mengalami kejadian tertentu, kita biasanya akan mengakses informasi dari pengalaman-pengalaman masa yang tersimpan dalam memori. Cara ini memungkinkan kita untuk mengetahui bagaimana perasaan, pikiran dan tingkahlaku kita pada situasi-situasi yang sama. Dengan demikian kita akan tahu apa yang harus dilakukan berdasarkan pengalaman kita yang terdahulu. Pada individu autis, mereka bisa memproses arti dari kejadian yang dihadapi tetapi tidak dapat atau mengalami kesulitan untuk mengakses informasi dari memori. Akibatnya mereka tidak tahu harus berbuat apa dan cenderung menghindar atau lari dari situasi tersebut. Disamping itu mereka juga kesulitan dalam memonitor ekspresi diri seperti gerakan, bahasa tubuh, ekspresi wajah, intonasi suara, volume suara, dan penggunaan kata-kata. Tidak adanya kapasitas monitoring yang efisien ini menyebabkan mereka kesulitan untuk mengekspresikan diri sesuai dengan harapan sosial.

Sebagai adaptasi dan kompensasi terhadap keterbatasan-keterbatasan tersebut, penyandang autisme melakukan beberapa cara. Pertama, mereka mengaktifkan satu indera saja dan menutup yang lainnnya dengan tujuan untuk meningkatkan efektifitas pengolahan informasi. Kedua, secara bergantian memperhatikan diri sendiri dan orang lain. Artinya, setelah mereka memperoleh informasi dari luar, mereka akan memfokuskan pada pemberian arti terhadap stimulus dan merencanakan respon yang akan diberikan. Setelah itu barulah mereka dapat kembali memberi perhatikan orang lain. Cara ini dilakukan berulang-ulang. Ketiga, mereka melakukan rote-learning yaitu menghafal informasi yang diterima secara apa adanya (kita sering menyebutnya sebagai menghafal mati). Strategi ini menyebabkan banyak anak autis yang menonjol dalam kemampuan matematika dan menghafalkan nama-nama. Namun demikian,  bila diterapkan dalam interaksi sosial maka yang tampak adalah perilaku yang stereotipi.

Dengan memahami cara-cara yang dilakukan individu autis dalam memproses informasi maka kita sebagai orangtua, terapis dan guru perlu memperhatikan cara-cara penyajian informasi agar dapat lebih mudah mereka pahami. Informasi yang kita berikan haruslah jelas, singkat, kongkrit dan diberikan secara bergantian dalam jangka waktu yang tidak terlalu cepat. Kita harus menyadari bahwa memang benar anak-anak autis membutuhkan stimulasi sejak usia dini, tetapi stimulasi yang berlebihan justru akan merugikan bagi mereka.

Sumber : Williams, Donna. 1996. Autism : an inside-out approach. Jessica Kingsley Publishers.

« Previous PageNext Page »

Switch to our mobile site