Pengamatan atas Pendidikan Anak Autistik Terkini

March 18, 2010 by · Leave a Comment
Filed under: Artikel 

Pendidikan inklusi sudah sejak beberapa tahun terakhir ini dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional RI melalui himbauan kepada para sekolah untuk menerima anak autistik yang dituangkan dalam berbagai peraturan. Pertanyaannya, bagaimanakah pelaksanaan himbauan itu di lapangan? Bagaimanakah bentuk pendidikan yang ideal bagi komunitas ini? Apa peran masyarakat dan pemerintah khususnya untuk membuat segalanya menjadi mungkin?

Gangguan Spektrum Autistik

Gangguan perkembangan ini pertama kali ditemukan oleh Leo Kanner di tahun 1943. Dengan berjalannya waktu, berbagai ciri yang semula secara khas menandai setiap individu autistik, makin bervariasi bentuknya. Ciri khas yang biasanya ditemukan, seringkali tidak tampak kasat mata dan pada akhirnya tertampil dalam bentuk yang tidak khas ataupun berbeda variasi. Misal, kesulitan anak untuk tatap mata, tidak lagi menjadi ciri utama gangguan ini karena banyak anak autistik yang tetap bisa tatap mata meski masih memiliki gangguan lainnya. Atau, perilaku mengepakkan tangan, ataupun kecenderungan untuk tidak mau dipeluk, bukan lagi hal-hal utama yang menjadi tolok ukur apakah seorang anak dinyatakan autistik atau tidak.

Gejala utama gangguan spektrum autistik yang harus ada untuk dapat dikatakan sebagai autistik, adalah kesulitan untuk berinteraksi secara kualitatif, kesulitan untuk berkomunikasi secara efektif, dan kecenderungan adanya perilaku stereotipi, apapun bentuknya. Semua gejala ini harus muncul sebelum usia tiga tahun.

Biasanya gangguan ini juga disertai permasalahan proses informasi, yang tentu saja mempengaruhi bagaimana seorang individu autistik belajar, baik di dalam maupun di luar kelas. Kadang ada juga masalah sensori yang juga dapat menghambat individu berbaur di lingkungan masyarakat.

Adanya variasi manifestasi gejala yang begitu beragam, membuat kebutuhan komunitas ini juga menjadi sangat beragam. Kebutuhan disini tentu saja juga mencakup masalah kebutuhan akan pendidikan.

Pendidikan untuk siswa autistik saat ini

Berbicara mengenai pendidikan, pemerintah sudah mencanangkan agar semua sekolah memberikan kesempatan kepada individu autistik untuk bergabung dalam bentuk pendidikan inklusi. Permasalahannya adalah, apakah kemudian penanganan berhenti pada masalah penerimaan saja? Tentu saja tidak. Agaknya sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pencanangan aturan harus ditindaklanjuti dengan pelatihan kepada sumber daya manusia terkait, khususnya para guru di kelas. Pelatihan bukan saja mengenai bagaimana mengupayakan proses belajar mengajar yang optimal, tetapi bagaimana menjembatani masalah hambatan komunikasi, ataupun penanganan masalah perilaku yang mungkin saja terjadi di kelas. Para guru juga harus tahu bahwa masalah bullying merupakan masalah nyata dan serius, serta bahwa para siswa ini harus diberi bekal untuk berbaur dengan masyarakat, bukan sekedar memenuhi target belajar di kelas saja. Penggunaan alat bantu apa yang efektif agar siswa memahami konsep abstrak dengan baik, serta bagaimana memastikan ilmu yang diperoleh dapat digeneralisasikan di lingkungan kehidupan sekitar. Intinya, para guru harus belajar lagi.

Selain pelatihan keterampilan penanganan anak autistik kepada para guru, penting juga memberikan pengertian kepada sekolah bahwa ada beberapa jenis inklusi. Tidak semua siswa dapat menjalani sistim ‘full inclusion’, dan untuk itu ada baiknya mempertimbangkan penanganan sistim ‘partial inclusion’ maupun ‘social mainstream’.. Fakta di lapangan membuktikan bahwa pihak sekolah belum semua paham mengenai adanya berbagai konsep inklusi tersebut, sehingga juga tidak paham bahwa kebutuhan siswa yang beragam dapat terjawab oleh jenis pelayanan yang berbeda pula.

Ketidaktahuan pihak sekolah berkaitan pula dengan keberanian masing-masing sekolah untuk melakukan modifikasi demi tercapainya tujuan pendidikan yang berbeda bagi setiap siswa. Mengacu pada kebutuhan yang beragam, tentunya bijak menetapkan tujuan pendidikan yang beragam, agar kebutuhan tersebut terjawab dengan tepat guna. Sekolah yang fokus pada memberikan jawaban atas beragam kebutuhan, akan berani melakukan modifikasi pada kurikulum yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Nasional, sehingga anak tetap belajar efektif tanpa harus mengorbankan berbagai tahap perkembangan lainnya.

Banyak sekolah juga belum paham bahwa kebijakan pemerintah juga berkaitan dengan kebijakan mengenai kriteria selesai sekolah yang sudah dapat diberlakukan kepada para siswa. Bahwa ada istilah ‘tamat’ selain istilah ‘lulus’, tampaknya juga masih  banyak yang belum paham. Bahkan bahwa ada ujian kesetaraan pun, masih banyak yang belum paham prosedur pelaksanaannya sehingga kesemuanya belum terlaksana tepat guna.

Harapan akan pendidikan untuk siswa autistik di masa datang

Mengingat bahwa gangguan spektrum autistik termanisfestasi dalam berbagai kondisi dan gejala, penting mengingat bahwa kebutuhan pendidikan bagi komunitas ini jelas sangat beragam. Tidak semua akan terjawab dengan konsep sekolah inklusi.

Bagaimana dengan para siswa yang tidak mampu bicara, meski mampu berkomunikasi dan memiliki kecerdasan rata-rata? Bagaimana dengan para siswa yang memiliki gangguan sensoris sehingga tidak dapat menjalani pendidikan di sekolah karena terganggu oleh bisingnya suara siswa lain? Belum lagi, para siswa di pelosok yang akan kesulitan bersekolah, apalagi menjangkau sekolah inklusi yang belum sampai ke pelosok tanah air kita yang sangat luas ini… Lalu para siswa autistik yang bahkan tidak mampu menolong dirinya sendiri…

Sebaliknya, bagaimana dengan para siswa yang sudah selesai menjalankan pendidikan dasar, kemudian kesulitan mencari sekolah lanjutan yang juga menjalankan konsep inklusi. Atau, siswa yang sudah menyelesaikan pendidikan lanjutan, dan kesulitan mencari lapangan pekerjaan.

Kesemua hal tersebut di atas, sebetulnya dapat dijawab oleh Kementerian Pendidikan Nasional, karena Kementerian ini membawahi berbagai Direktorat Pendidikan seperti pendidikan luar biasa, pendidikan luar sekolah, pendidikan tinggi…. sehingga semua hal yang berkaitan dengan pendidikan, apapun bentuknya, dapat dijawab oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Misalnya saja, bagi siswa yang tidak mampu bicara tetapi dapat berkomunikasi dan memiliki kecerdasan rata-rata; sekolah luar biasa khusus autisme dapat menjawab kebutuhan mereka karena setiap anak akan dibuatkan kurikulum pribadi yang terus menantang mereka untuk maju. Siswa yang sulit berbaur karena masalah sensoris, termasuk juga siswa di daerah terpencil, diharapkan dapat memanfaatkan pembelajaran melalui sistim ‘sekolah rumah’ atau homeschooling. Mereka yang tidak mampu menolong dirinya sendiri, dapat diarahkan untuk berlatih menolong diri sendiri di sekolah luar biasa yang biasanya menerima siswa dengan kecerdasan terbatas.

Sebaliknya, para siswa yang sudah selesai pendidikan dasar dapat menjalankan pendidikan khusus yang melatih keterampilan untuk berdikari seperti fotografi, disain, musik, dan berbagai pendidikan setara akademi lainnya. Mereka yang sudah menyelesaikan pendidikan tinggi se-tingkat sarjana, dapat dibantu dengan pelatihan kewirausahaan, manajemen, yang dapat memberi bekal agar mereka dapat menghidupi dirinya sendiri serta berbaur di masyarakat.

Pendidikan adalah hak setiap manusia, termasuk siswa dengan kebutuhan khusus, yaitu mereka yang memiliki gangguan spektrum autistik. Pendidikan bertujuan untuk memberikan bekal agar setiap insan memiliki masa depan dengan kualitas hidup yang baik, bagaimanapun bentuknya. Pendidikan seharusnya dapat dijangkau oleh setiap insan di tanah air, baik di kota besar maupun di pelosok tanah air, tidak ditentukan oleh latar belakang keluarga, sosial, maupun ekonomi. Untuk itu tentunya perlu berbagai perubahan dalam sistim, agar terjadi pendidikan ideal bagi semua siswa autistik di tanah air.

Kesadaran akan semangat pemerataan pendidikan di tanah air ini tampaknya sudah mulai tertanam di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional, dan akan menjadi sempurna bila diikuti oleh pelaksanaan di lapangan secara tepat guna.

Semoga.

Jakarta, 6 Maret 2010.

Dra. Dyah Puspita, MSi – psikolog
Sekretaris Yayasan Autisma Indonesia

« Previous PageNext Page »